Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Januari 2011

AHMAD TOHARI

Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 61 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).Ia pernah bekerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat (1990) dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1995).


Karya-karyanya :

* Kubah (novel) (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (kumpulan cerpen, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006; meraih Hadiah Sastera Rancagé 2007)


Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedang disiapkan penerbitannya.

arswendo atmowiloto

ARSWENDO ATMOWILOTO lahir di Solo, 26 November 1948. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa. Sampai kini karyanya yang telah diterbitkan sudah puluhan judul. Ia sudah belasan kali pula memenangi sayembara penulisan, memenangkan sedikitnya dua kali Hadiah Buku Nasional, dan mendapatkan beberapa penghargaan baik tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Tahun 1979 ia mengikuti program penulisan kreatif di University of Iowa, Iowa City, USA. Dalam karier jurnalistik, ia sempat memimpin tabloid Monitor, sebelum terpaksa menghuni penjara (1990) selama lima tahun.
Pengalamannya dalam penjara telah melahirkan sejumlah novel—termasuk Projo dan Brojo ini, buku-buku rohani, puluhan artikel, dan catatan lucu-haru, Menghitung Hari. Judul tersebut telah disinetronkan dan memperoleh penghargaan utama dalam Festival Sinetron Indonesia, 1995. Tahun berikutnya, sinetron lain yang ditulisnya, Vonis Kepagian, juga memperoleh penghargaan serupa.
Dunia pertelevisian memang sudah menarik perhatiannya sejak ia memimpin tabloid Monitor. Karya-karyanya yang pernah terkenal seperti Kiki, Imung, Keluarga Cemara, Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting diangkat sebagai drama serial di televisi. Ia juga menulis buku Telaah tentang Televisi serta Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang yang belasan kali cetak ulang.
Ia kini masih tetap menulis skenario dan novel, sering tampil dalam seminar dan diundang ceramah, serta memproduksi sinetron dan film, termasuk film Anak-Anak Borobudur (2007). Selain buku, televisi, dan film, ia mengaku menyukai komik dan humor, dan sangat tertarik untuk terlibat dalam dunia anak-anak.
Ia tinggal di Jakarta dengan istri yang itu-itu juga, tiga anak yang
sudah dewasa dan berkeluarga, lima cucu, ratusan lukisan “kapas berwarna” yang dibuatnya waktu di penjara, seperti juga sandal tato.
“Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena
kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya
menulis.” Wendo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, 1979, dikenal juga sebagai pengamat televisi. Dipedulikan atau tidak, kritik dan komentarnya tentang pertelevisian terus mengalir. Akhirnya, Dewan Kesenian Jakarta mengundangnya untuk menjadi pembicara dalam diskusi tentang televisi.
Pemilik rumah produksi PT Atmochademas Persada ini telah membuat sejumlah sinetron. Sinetronnya Keluarga Cemara memperoleh Panasonic Award 2000 sebagai acara anak-anak favorit. Tiga kali ia menerima Piala Vidya untuk Pemahat Borobudur, Menghitung Hari, dan Vonis Kepagian.
Kalau sekarang ia juga merangkap menjadi sutradara sinetron, “Karena iseng saja. Sutradara honornya juga bagus, ya sudah,” ujar Wendo.
DIPENJARA
Di tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW (Nabi umat Muslim) yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara.
Selama dalam tahanan, Arswendo menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung. Sebagian dikirimkannya ke berbagai surat kabar, seperti KOMPAS, Suara Pembaruan, dan Media Indonesia. Semuanya dengan menggunakan alamat dan identitas palsu.
Untuk cerita bersambungnya, “Sudesi” (Sukses dengan Satu Istri), di harian “Kompas”, ia menggunakan nama “Sukmo Sasmito”. Untuk “Auk” yang dimuat di “Suara Pembaruan” ia memakai nama “Lani Biki”, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah “Said Saat” dan “B.M.D Harahap”. Pribadinya yang santai dan senang humor, membantu Arswendo menjalani hidup di penjara. Ia misalnya, menghabiskan waktu di penjara dengan memanfaatkan keterampilannya membuat tato–yang ditato adalah sandal. Sandal yang semula seharga Rp 500, setelah ditato bisa ia lego seharga Rp 2.000. Lewat usaha itu, ia punya 700 anak buah. Tentu, ia tetap menulis. Tujuh novel lahir di LP Cipinang, antara lain: Kisah Para Ratib, Abal-Abal, Menghitung Hari (sekeluar dari penjara Menghitung Hari dibuat sinetron dan memenangi Piala Vidya). Lalu puluhan artikel, tiga naskah skenario, beberapa cerita bersambung. Sebagian di antaranya ia kirimkan ke Kompas dan Suara Pembaruan dengan menggunakan nama samaran.
Setelah menjalani hukuman 5 tahun ia dibebaskan dan kemudian kembali ke profesi lamanya. Ia menemui Sudwikatmono yang menerbitkan tabloid Bintang Indonesia yang sedang kembang-kempis. Di tangannya, Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Namun Arswendo hanya bertahan tiga tahun di situ, karena ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron. Kakaknya, Satmowi Atmowiloto, adalah seorang kartunis.
Arswendo Atmowiloto mengaku menyesal melakukan perbuatan yang dinilai melukai umat Islam dengan membuat sebuah “pooling” atau survey kontroversial di tabloid Monitor yang pernah dipimpinnya waktu itu. “Saya menyesal karena saat itu membuat umat Islam terluka,” kata Arswendo. Arswendo mengemukakan hal itu ketika ditanya apakah terdapat rasa penyesalan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan yang hadir dalam persidangan tersebut sebagai pihak terkait. Sedangkan Arswendo dihadirkan oleh pihak pemohon uji materi sebagai salah seorang korban yang pernah dijerat hukum karena terkait dengan pasal-pasal tentang penodaan agama. Ia menegaskan, sama sekali tidak ada niat untuk menodai atau menistakan agama tertentu terkait dengan survey tersebut. Arswendo pada saat itu bahkan telah meminta maaf baik melalui media cetak dan media elektronik dan Monitor juga telah menuliskan permintaan maaf yang memenuhi halaman pertama dari tabloid tersebut.
Untuk saat ini, ia hanya ingin agar setidaknya terdapat penjelasan tentang perbuatan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai penodaan agama agar hal yang menimpanya tak terulang di masa mendatang.
MASA MUDA
Ayahnya, pegawai balai kota Surakarta, sudah meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya, meninggal pada 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.
Bahkan ketika ia diterima di Akademi Postel Bandung yang berikatan dinas, setelah lulus SMA, anak ketiga dari enam bersaudara ini tak bisa berangkat ke Bandung karena tak punya ongkos. Kalaupun ia sempat kuliah di IKIP Negeri Solo (sekarang Universitas Negeri Sebelas Maret), itu karena: “Saya cuma ingin menyandang jaket perguruan tinggi.” Setelah tiga bulan kuliah, ia mangkir untuk seterusnya. Ndo, panggilannya, dari kecil senang mendalang. ”Dari situ saya berkenalan dengan seni,” katanya. Tetapi, cita-cita semula jadi dokter, ”gagal karena masalah ekonomi”. Lalu, lulus tes Akademi Postel di Bandung, tetapi urung berangkat, ”karena tidak ada ongkos”. Toh, keinginannya jadi mahasiswa terpenuhi di IKIP Surakarta (sekarang Universitas Negeri Sebelas Maret), walau cuma tiga bulan. ”Saya ingin memiliki jaket universitas,” alasannya masuk perguruan tinggi.
Ndo, pernah kerja macam-macam; di pabrik bihun, jaga sepeda di apotek, tukang pungut bola di lapangan tenis. Cikal bakal jadi sastrawan dengan menulis di majalah berbahasa Jawa, Dharma Kanda, 1969. Sebetulnya nama aslinya bukan Arswendo, tetapi Sarwendo. Anehnya, kalau ia menuliskan nama aslinya, ”tulisan saya malah tidak dimuat,” katanya. Itu dahulu. Sekarang toh ia keasyikan dengan nama tidak asli itu setelah ”sukses” di Jakarta.
Selain sastrawan dan wartawan — ia Pemimpin Redaksi Hai dan merangkap wartawan Kompas. Arswendo sangat meminati masalah televisi. Ia tidak pernah bosan melempar saran dan kritik kepada TVRI, tidak peduli ditanggapi atau tidak. Bahkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 1982, ia menelanjangi media pemerintah itu lewat ceramahnya, Menjadi Penonton Televisi yang Baik. Ia tahu betul liku-liku pertelevisian.
Bukan cuma televisi, Ndo juga pengamat komik yang baik. Koleksi komiknya cukup lengkap, terutama yang pernah terbit di Indonesia. Ia kesal sekali, ketika di suatu zaman, komik dianggap merusak. ”Tahun 1955, komik dibakar, tahun 1977 komik dirazia bersama razia rambut gondrong,” tuturnya.
Ndo penasaran dan ia meneliti komik, 1977. Ternyata, komik tidak seburuk yang disangka. Bahkan PT Pustaka Jaya, penerbit yang pernah menyatakan tidak menerbitkan komik, 1972 — pada tahun 1977 mulai menerbitkan komik.
Ndo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, 1979, menikah dengan Agnes Sri Hartini. Ia mendapat tiga anak. Dan melahirkan puluhan novel dan naskah drama tetapi — bukan komik.
Arswendo (nama yang semula diciptakannya untuk tulisan-tulisannya tapi akhirnya menjadi nama resminya) memang suka berkelakar. Terkesan seenaknya hampir dalam segala hal, kadang ia pun mengikuti arus. Misalnya, rambutnya dipanjangkan dan diikat ke belakang bergaya ekor kuda, ini pun cuma ikut-kutan dengan arus, katanya. Ia pun mengaku hidupnya santai, tak pernah basa-basi, dan juga tak pernah memikirkan hari esok. Untuk soal terakhir itu, inilah contohnya. Suatu hari, di awal tahun 70-an, ia menerima honorarium dari Dharma Kandha sebanyak Rp 1.500. Di dekat kantor tampak sejumlah orang, antara lain sopir becak, berjudi. Ia bergabung, dan kontan uang itu ludes.
Wendo pernah kerja macam-macam; di pabrik bihun, tukang parkir sepeda di apotek, tukang pungut bola di lapangan tenis, dan macam-macam lagi. Ia mulai menulis, dalam bahasa Jawa, cerita pendek, cerita bersambung, artikel di media berbahasa Jawa di tahun 1968. Mula-mula tulisan-tulisannya selalu ditolak. Tapi begitu menggunakan nama Arswendo (bukan Sarwendo) Atmowiloto (nama ayahnya), tulisan diterbitkan. “Nama sarwendo tak membawa berkah rupanya,” komentarnya.
Ia menjadi wartawan ketika di Solo muncul harian berbahasa Jawa Dharma Kandha dan Dharma Nyata. Sambil bekerja di media tersebut, ia pun menjadi koresponden lepas majalah TEMPO. Tahun 1972 Arswendo pindah ke Jakarta, bekerja sebagai redaktur pelaksana di majalah humor Astaga. Majalah ini tak hidup lama, dan ia pun masuk menjadi wartawan di kelompok Kompas-Gramedia. Di kelompok ini, terakhir ia menjadi pemimpin redaksi majalah remaja Hai dan tabloid hiburan Monitor.
KARYA-KARYA ARSWENDO
  • Bayiku yang Pertama (Sandiwara Komedi dalam 3 Babak) (1974)
  • Sang Pangeran (1975)
  • Sang Pemahat (1976)
  • The Circus (1977)
  • Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)
  • Dua Ibu (1981)
  • Serangan Fajar (diangkat dari film yang memenangkan 6 Piala Citra pada Festival Film Indonesia) (1982)
  • Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel “Kawinnya Juminten“) (1985)
  • Anak Ratapan Insan (1985)
  • Airlangga (1985)
  • Senopati Pamungkas (1986/2003) – dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
  • Akar Asap Neraka (1986)
  • Dukun Tanpa Kemenyan (1986)
  • Indonesia from the Air (1986)
  • Garem Koki (1986)
  • Canting (sebuah roman keluarga) (1986) – dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
  • Pengkhianatan G30S/PKI (1986)
  • Lukisan Setangkai Mawar (17 cerita pendek pengarang Aksara) (1986)
  • Telaah tentang Televisi (1986)
  • Tembang Tanah Air (1989)
  • Menghitung Hari (1993)
  • Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)
  • Projo & Brojo (1994)
  • Oskep (1994)
  • Abal-abal (1994)
  • Khotbah di Penjara (1994)
  • Auk (1994)
  • Berserah itu Indah (kesaksian pribadi) (1994)
  • Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)
  • Sukma Sejati (1994)
  • Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)
  • Kisah Para Ratib (1996)
  • Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)
  • Pesta Jangkrik (2001)
  • Keluarga Cemara 1
  • Keluarga Cemara 2 (2001)
  • Keluarga Cemara 3 (2001)
  • Kadir (2001)
  • Keluarga Bahagia (2001)
  • Darah Nelayan (2001)
  • Dewa Mabuk (2001)
  • Mencari Ayah Ibu (2002)
  • Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)
  • Dusun Tantangan (2002)
  • Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)
  • Kau Memanggilku Malaikat (2007)
  • Imung
  • Kiki
  • Mengarang Itu Gampang

Kamis, 20 Januari 2011

andi f noya

Andy Flores Noya (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 November 1960; umur 50 tahun) adalah wartawan dan presenter televisi Indonesia. Ia lebih dikenal ketika membawakan acara Kick Andy

Riwayat perjalanan hidup

Pertama kali terjun sebagai reporter ketika pada 1985 Andy membantu Majalah Tempo untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Saat itu pemuda berdarah Ambon, Jawa, dan Belanda ini masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta.
Andy sebenarnya lulusan sekolah teknik. Begitu lulus SD sang timur Di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini melanjutkan sekolah di Sekolah Teknik lalu ke STM Jayapura. Tidak sampai tamat, ia pindah ke Jakarta dan melanjutkan ke STM 6 Jakarta.
Meski demikian, sejak kecil dia sangat jatuh cinta pada dunia tulis-menulis. Kemampuannya menggambar kartun dan karikatur semakin membuatnya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidupnya. Oleh sebab itu begitu lulus STM, walau mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke IKIP Padang, Andy memilih mendaftar ke Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Politik Jakarta). Sebenarnya Andy tidak diterima kuliah di perguruan tinggi tersebut sebab kampus tidak menerima lulusan STM. Namun karena tekadnya menjadi wartawan sudah sedemikian membara, akhirnya Andy "Naik banding" dan menemui Rektor Sekolah Tinggi Publisistik Ali Mochtar Hoeta Soehoet. Kepada sang rektor Andy Noya mengungkapkan suara hatinya. Akhirnya sang rektor menyerah dan memberikan kesempatan kepada Andy untuk ikut tes masuk, dengan catatan (syarat) dia harus meminta surat rekomendasi dari Dirjen Pendidikan Tinggi. Selain itu, apabila di kemudian hari nilai mata kuliah Andy jelek, dia harus keluar. Ternyata prestasi Andy bagus dan kuliahnya pun berlanjut.
Pada saat harian ekonomi Bisnis Indonesia hendak terbit (1985), Andy diajak bergabung oleh Lukman Setiawan, pimpinan di Grafitipers, salah satu anak usaha Tempo. Maka Andy tercatat sebagai 19 reporter pertama di harian itu. Baru dua tahun di Bisnis Indonesia, Andy diajak oleh Fikri Jufri wartawan senior Tempo untuk memperkuat majalah Matra yang baru diterbitkan oleh Tempo. Andy tertarik lalu bergabung.
Matra agaknya bukan pelabuhan terakhirnya. Pada 1992 datang tawaran dari Surya Paloh, pemilik surat kabar Prioritas yang waktu itu dibreidel, untuk bergabung dengan koran Media Indonesia yang mereka kelola. Maka sejak itulah Andy kembali ke surat kabar.
Pada 1999, RCTI menghadapi masalah. Terjadi gejolak dikalangan wartawan program berita Seputar Indonesia berkaitan dengan adanya ketentuan yang mengharuskan PT Sindo, anak usaha RCTI yang menaungi Seputar Indonesia, untuk bergabung dengan RCTI sebagai induk. Bersama wartawan senior Djafar Assegaff, Andy diutus untuk membantu. Tugas utama adalah memimpin Seputar Indonesia sekaligus memuluskan proses transisi ke RCTI.
Pada tahun 2000, Metro TV mendapat izin siaran. Surya Paloh memanggil Andy kembali untuk memimpin Metro TV sebagai pemimpin redaksi. Tiga tahun kemudian (2003) Andy ditarik kembali ke Media Indonesia dan menjadi pemimpin redaksi di surat kabar umum terbesar kedua itu. Memasuki tahun 2006, saat pemimpin redaksi Metro TV Don Bosco mengundurkan diri, Andy Noya, yang kini menjadi wakil pemimpin umum di Media Indonesia, diminta merangkap menjadi pemimpin redaksi Metro TV menggantikan Don Bosco.
Di saat itulah andy kemudian mulai belajar jurnalistik televsisi secara menyeluruh. Ia pun dipercaya menjadi Host salah satu acara yang judulnya diambil sendiri dari namanya, yaitu Kick Andy, sebuah acara talk show yang disiarkan oleh Metro TV dan tayang setiap Jum'at malam.
Dalam perjalanan kariernya Andy pernah menjadi host program Jakarta Round Up kemudian Jakarta First Channel di Radio Trijaya selama lima tahun (1994 sampai dengan 1999).

Senin, 17 Januari 2011

MARIO TEGUH


Mario Teguh (lahir di Makassar, 5 Maret 1956; umur 54 tahun) adalah seorang muslim yang menjadi motivator dan konsultan asal Indonesia. Nama aslinya adalah Sis Maryono Teguh, namun saat tampil di depan publik, ia menggunakan nama Mario Teguh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Mario Teguh sempat bekerja di Citibank, kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp. menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) dan Senior Consultan. Beliau juga membentuk komunnitas Mario Teguh Super Club (MTSC).

Karier

Tahun 2010 kembali meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia, MURI, sebagai Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia.
Di awal tahun 2010, Beliau terpilih sebagai satu dari 8 Tokoh Perubahan 2009 versi Republika surat kabar yang terbit di Jakarta.
Sebelumnya Beliau membawakan acara bertajuk Business Art di O'Channel. Kemudian namanya semakin dikenal luas oleh masyarakat ketika ia membawakan acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV. Pada saat ini Mario Teguh dikenal sebagai salah satu motivator termahal di Indonesia.
Di tahun 2003 mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia, MURI, sebagai penyelenggara seminar berhadiah mobil pertama di Indonesia.

Pengalaman Karir

  • Citibank Indonesia (1983 – 1986) as Head of Sales
  • BSB Bank (1986 – 1989) as Manager Business Development
  • Aspac Bank (1990 – 1994) as Vice President Marketing & Organization Development
  • Exnal Corp Jakarta (1994 – present) as CEO, Senior Consultant, Spesialisasi : Business Effectiveness Consultant

Pendidikan

  • Jurusan Arsitektur New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, Amerika Serikat, 1975.
  • Jurusan Linguistik dan Pendidikan Bahasa Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (S-1).
  • Jurusan International Business, Sophia University, Tokyo, Jepang.
  • Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA).

Buku

  • Becoming a Star (2006)
  • One Million Second Chances (2006)
  • Life Changer (2009)
  • Leadership Golden Ways (2009)